November 1, 2023
Home » Mengenal Tsujigiri, Tradisi Tidak Etis Samurai Jepang

Mengenal Tsujigiri, Tradisi Tidak Etis Samurai Jepang

0

Tsujigiri mencerminkan tindakan yang tidak etis dan kejam yang terkait dengan uji pedang oleh seorang samurai pada masa lalu. Praktik semacam ini tidak sesuai dengan nilai-nilai Bushido yang diterapkan oleh samurai, dan seringkali dianggap sebagai tindakan yang tidak bermoral.

Bushido, atau “Jalan Prajurit,” adalah kode etik yang dianut oleh samurai yang menekankan nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, keadilan, dan penghormatan terhadap kehidupan. Tsujigiri jelas melanggar prinsip-prinsip ini dengan menyerang orang awam atau yang tidak bersenjata secara sembarangan.

Perlu ditekankan bahwa tsujigiri adalah praktik yang sudah berlalu dan tidak mencerminkan perilaku atau nilai-nilai dalam masyarakat Jepang saat ini. Masyarakat Jepang modern menekankan pada etika, keadilan, dan toleransi, dan praktik semacam tsujigiri tentu tidak diterima dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Asal Mula Istilah Tsujigiri

Kata “tsujigiri” berasal dari gabungan dua kata, “tsuji” yang berarti persimpangan atau jalanan, dan “kiru” yang berarti memotong. Istilah ini mencerminkan tindakan samurai yang mencari kesempatan untuk menguji pedang mereka dengan cara yang tidak etis di persimpangan jalan.

Tsujigiri sebagian besar terkait dengan keinginan seorang samurai untuk menguji keandalan dan ketajaman pedang mereka. Namun, praktik ini sering kali dijalankan dengan cara yang kejam dan tidak manusiawi.

Alasan Melakukan

Meskipun tsujigiri secara umum dianggap sebagai tindakan yang tidak etis dan kejam, terdapat beberapa kasus di mana samurai melakukan praktik ini dengan motivasi yang berbeda.

  • Serangan Tak Terduga yang Kejam:
    Sebagian besar praktik tsujigiri melibatkan serangan tak terduga terhadap orang-orang yang tidak bersenjata atau tidak berdaya. Ini dianggap sebagai tindakan kejam dan tidak bermoral karena sering kali tidak ada alasan atau justifikasi etis untuk menyerang individu yang tidak dapat membela diri.
  • Upaya untuk Menyelamatkan Nyawa:
    Meskipun demikian, ada kasus di mana seorang samurai mungkin melakukan tsujigiri dengan niat positif, yaitu untuk menyelamatkan nyawa. Contohnya, samurai mungkin mencoba menguji pedang mereka dengan menyerang secara tiba-tiba untuk memastikan bahwa senjata mereka benar-benar tajam dan dapat diandalkan dalam situasi darurat.
  • Menguji Kemampuan Pedang:
    Dalam beberapa situasi, samurai yang melakukan tsujigiri mungkin berusaha menguji kemampuan pedang mereka dengan menyerang objek yang dianggap sulit untuk diiris. Hal ini lebih fokus pada uji coba fungsionalitas dan kualitas pedang daripada serangan langsung terhadap individu.
BACA JUGA:  47 Ronin, Kisah Nyata Kesetiaan Samurai

Ahli pedang yang membasmi para Tsujigiri

Dalam sejarah Jepang, terdapat beberapa ahli pedang atau pejuang yang dikenal karena membela masyarakat dan membasmi para tsujigiri, yang sering kali melakukan tindakan kejam dan merugikan warga sipil. Berikut adalah beberapa contoh:

  1. Miyamoto Musashi:
    Miyamoto Musashi adalah salah satu ahli pedang paling terkenal dalam sejarah Jepang. Ia hidup pada abad ke-16 dan ke-17 dan terlibat dalam pertempuran-pertempuran terkenal. Meskipun tidak secara eksplisit terlibat dalam membasmi tsujigiri, Musashi dihormati karena kode etiknya yang kuat dan keberaniannya dalam pertempuran. Dia menulis “The Book of Five Rings” yang berisi pandangan filosofis dan taktisnya tentang seni bela diri dan pertempuran.
  2. Yagyu Munenori:

    Yagyu Munenori adalah seorang ahli pedang dan guru pedang pada awal periode Edo. Ia adalah kepala sekolah Yagyu Shinkage-ryu, salah satu aliran pedang terkenal. Munenori dikenal karena keahliannya dalam seni bela diri dan sebagai penasihat seni bela diri untuk Tokugawa Ieyasu. Walaupun ia lebih terlibat dalam pendidikan dan pengembangan ilmu pedang, keberadaannya membantu menegakkan tata tertib dalam masyarakat samurai.

  3. Ito Ittosai Kagehisa:

    Ito Ittosai Kagehisa adalah ahli pedang dan pendiri aliran pedang Itto-ryu. Ia hidup pada abad ke-16 dan terkenal karena kemampuan bertarungnya yang luar biasa. Ito Ittosai diyakini terlibat dalam beberapa pertarungan melawan para tsujigiri yang melakukan tindakan kejam dan tidak etis.

Perlu dicatat bahwa sementara beberapa ahli pedang terlibat dalam melawan kejahatan dan perilaku tsujigiri, sejarah mereka terkadang tercampur dengan cerita-cerita dan legenda. Meskipun demikian, figur-figur ini mencerminkan nilai-nilai keberanian, keadilan, dan perlindungan masyarakat dalam budaya samurai.

Hukuman yang Tegas dan akhir tradisi Tsujigiri

Praktik tsujigiri pada akhirnya dihukum dengan tegas oleh pemerintah Jepang, terutama pada masa pemerintahan Tokugawa shogunate selama periode Edo (1603-1868). Pada saat itu, shogun Tokugawa Ieyasu dan keturunannya menerapkan kebijakan yang ketat untuk memastikan perdamaian dan ketertiban dalam masyarakat.

Beberapa langkah yang diambil untuk mengakhiri tradisi tsujigiri dan mengatasi perilaku samurai yang kejam antara lain:

  • Pemberlakuan Hukuman Berat:
    Pemerintah Tokugawa memberlakukan hukuman berat bagi samurai yang terlibat dalam tindakan tsujigiri atau perilaku yang melanggar etika samurai. Hukuman tersebut bisa termasuk denda besar, pengasingan, atau bahkan eksekusi.
  • Kendali dan Pengawasan Ketat:
    Shogun Tokugawa memastikan adanya kendali dan pengawasan yang ketat terhadap aktivitas samurai. Mereka mengatur kegiatan pelatihan dan latihan militer agar sesuai dengan kode etik samurai, seperti Bushido.
  • Pendidikan Etika Samurai:
    Untuk mengatasi perilaku yang tidak etis, pemerintah Tokugawa meningkatkan pendidikan etika samurai. Hal ini dilakukan melalui sekolah-sekolah pedang dan lembaga-lembaga pelatihan militer yang dikelola oleh pemerintah atau keluarga samurai.
  • Pengaruh Perubahan Sosial:
    Perubahan sosial yang terjadi pada masa Edo, seperti pembatasan pemakaian pedang oleh samurai di lingkungan perkotaan dan penurunan peran militer samurai dalam masyarakat, juga berkontribusi pada mengakhiri praktik tsujigiri. Mereka mulai beralih dari fungsi militer dan lebih terlibat dalam administrasi dan perdagangan.
  • Penegakan Kodifikasi Etika:
    Pengembangan kode etik samurai yang lebih terstruktur, seperti Bushido, membantu menegakkan nilai-nilai moral dan etika yang sesuai dengan tuntutan masyarakat pada waktu itu.

Secara keseluruhan, kombinasi dari hukuman berat, kendali pemerintah, pendidikan etika, perubahan sosial, dan kodifikasi nilai-nilai etika samurai berperan dalam mengakhiri praktik tsujigiri dan mendisiplinkan perilaku samurai untuk lebih sesuai dengan norma masyarakat.

 

BACA JUGA:  Halloween: Jejak Misteri Tradisi dan 4 Fakta Langka yang Menarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *