November 1, 2023
Home » Pencurian di Museum Gardner yang Aneh dan Tak Terpecahkan

Pencurian di Museum Gardner yang Aneh dan Tak Terpecahkan

0

Lapakgosip.fun – Pencurian seni terbesar dalam sejarah modern yang terjadi di Museum Isabella Stewart Gardner merupakan salah satu kasus yang paling misterius dan belum terpecahkan hingga saat ini. Kejadian ini terjadi pada tanggal 18 Maret 1990, di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Pada malam hari tanggal 18 Maret 1990, dua pria bersenjata masuk ke Museum Isabella Stewart Gardner dan menyamar sebagai polisi. Mereka berhasil masuk dengan mudah karena tidak ada sistem keamanan yang memadai.

Pencurian ini berlangsung sangat cepat, hanya dalam waktu 81 menit. Para pencuri mengikat dan menahan petugas keamanan, lalu mencuri 13 karya seni yang termasuk lukisan-lukisan berharga dari pelukis terkenal seperti Rembrandt, Vermeer, Manet, dan Degas.

Sekilas Tentang Museum Gardner

Isabella Stewart Gardner, seorang kolektor seni kaya Amerika, memang membangun Museum Isabella Stewart Gardner dengan harapan memberikan “pendidikan dan kesenangan bagi publik selamanya.” Museum ini didirikan berdasarkan rumah pribadinya yang bergaya palazzo Venesia. Namun, setelah kematiannya pada tahun 1924, museum tersebut mengalami tantangan finansial yang signifikan.

Kelemahan keamanan Museum Isabella Stewart Gardner menjadi sorotan utama di kalangan elit kriminal Boston, membuatnya menjadi sasaran empuk untuk perampokan. Pada malam 18 Maret 1990, dua orang bersenjata menyamar sebagai polisi berhasil masuk ke museum, menahan petugas keamanan, dan mencuri sejumlah besar karya seni berharga dalam waktu yang sangat singkat.

Malam Kejadian Pencurian Museum Gardner, Pencuri Menyamar JadiPolisi

Pada pukul 12:54 dini hari, alarm kebakaran berbunyi di lantai ketiga museum, mengirimkan salah satu penjaga keamanan, Rick Abath, untuk menyelidiki. Namun, tidak ditemukan tanda-tanda kebakaran. Hanya beberapa menit setelah alarm kebakaran, sekitar pukul 1:24 dini hari, dua pria berpakaian seperti petugas polisi Boston mendekati meja keamanan di mana Abath berjaga. Mereka mengklaim merespons panggilan gangguan dan meminta izin untuk masuk.

BACA JUGA:  Marc Marquez dan Jonathan Rea: 6 Kali Juara Dunia yang Kompak Kontrak Musim Ini

Abath, dalam suasana St. Patrick’s Day dan menyadari bahwa ada pesta-pesta yang sedang berlangsung di kota, dengan mudah meyakini alasan orang asing tersebut dan membuka pintu masuk pegawai. Tindakan ini melanggar protokol keamanan museum. Ketika kedua pria berpakaian polisi mendekati Rick Abath di belakang meja keamanan, salah satunya menyatakan bahwa mereka memiliki surat perintah penangkapan untuknya. Hal ini merupakan trik untuk mengecoh Abath agar keluar dari meja kontrolnya.

Setelah Abath meninggalkan meja kontrol, para pencuri menyekap dan mengikatnya, serta penjaga keamanan lainnya, menggunakan lakban. Mereka kemudian mengarahkan para korban untuk menghadap dinding dan merantai mereka. Setelah para korban diamankan, pencuri tersebut memberikan pengumuman resmi bahwa ini adalah sebuah perampokan dengan menyatakan, “Gentlemen, this is a robbery/Tuan-tuan, ini adalah sebuah perampokan.”

Dalam 81 menit, pencuri gondol 13 karya seni terkenal

Dutch Room, Isabella Stewart Gardner Museum, Boston

Para pencuri mengambil 13 karya seni berharga yang dipajang di galeri museum. Mereka merusak kaca pelindung dua lukisan Rembrandt dan memotong kanvas dari bingkai emasnya. Tindakan ini menunjukkan tingkat keahlian dan keterampilan teknis yang dimiliki para pelaku

pencurian. Lukisan-lukisan yang dicuri termasuk karya-karya dari seniman-seniman terkenal seperti Rembrandt, Vermeer, dan Manet. Karya-karya ini tidak hanya memiliki nilai finansial yang tinggi, tetapi juga memiliki nilai seni dan sejarah yang tak ternilai.

Kombinasi nilai semua lukisan yang dicuri diperkirakan mencapai lebih dari $500 juta. Pencurian seni ini, dengan nilai finansial yang sangat tinggi, menjadikannya salah satu kasus pencurian seni paling mahal dalam sejarah.

Mengapa lukisan paling mahal tak dicuri?

Para pelaku mencoba mengeluarkan bendera Garda Imperial Napoleon dari bingkainya, namun percobaan ini gagal. Sebagai gantinya, mereka hanya mengambil finial berbentuk elang dari perunggu atau hiasan. Motivasi di balik percobaan ini tidak jelas dan menjadi salah satu aspek misterius pencurian tersebut

BACA JUGA:  Mengenal Tsujigiri, Tradisi Tidak Etis Samurai Jepang

Meskipun melakukan pencurian seni yang signifikan, para pelaku memilih untuk tidak menyentuh karya seni tertentu. The Rape of Europa karya Titian, yang mungkin merupakan salah satu karya seni paling mahal di museum, dibiarkan tidak tersentuh. Keputusan ini meninggalkan banyak pertanyaan dan kebingungan di kalangan otoritas dan peneliti.

Para pelaku meninggalkan kombinasi barang-barang curian yang tampaknya acak. Kehadiran finial berbentuk elang dan pengabaian terhadap karya seni tertentu menimbulkan pertanyaan mengenai motif dan pengetahuan seni para pelaku.

Kedua Penjaga Museum Gardner Dicurigai

Pihak berwenang awalnya mencurigai kedua penjaga malam yang bertugas pada malam pencurian. Rick Abath, salah satu penjaga malam yang sering bertugas, menjadi fokus penyelidikan karena kejahatan semacam itu umumnya melibatkan unsur internal. Meskipun demikian, Abath telah membantah keterlibatannya, dan pada umumnya, tidak ada bukti langsung yang mengaitkannya dengan pencurian tersebut.

Pada tahun 2015, terungkap bahwa ada rekaman video yang menunjukkan Abath membuka pintu samping museum pada siang hari setelah pencurian terjadi. Meskipun video tersebut buram dan menimbulkan lebih banyak pertanyaan, ini menambahkan elemen kontroversial pada kasus tersebut. Namun, video tersebut tidak memberikan jawaban definitif dan menghasilkan lebih banyak spekulasi daripada solusi.

Bingkai lukisan curian dibiarkan kosong dan jadi pajangan

Boston-6/12/96- Rembrandt’s, ‘The Storm on the Sea of Galilee’

Tentu saja, pengingat visual dengan membiarkan bingkai lukisan tetap kosong adalah cara yang kuat untuk merayakan keberanian sekaligus mengingatkan pada kerugian seni yang tak tergantikan. Museum Isabella Stewart Gardner memilih untuk mempertahankan ruang-ruang tersebut sebagai peringatan dan monumen hidup mengenai pencurian seni yang tragis.

BACA JUGA:  Ini 5 Menteri di Dunia yang Mengundurkan Diri Usai Tersandung Skandal Korupsi

Upaya pihak museum untuk terus memperingati kejadian tersebut melalui media sosial seperti Instagram juga merupakan langkah yang baik untuk melibatkan masyarakat dan menciptakan kesadaran akan karya seni yang hilang. Tawaran hadiah bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi yang membantu menemukan karya seni tersebut menunjukkan komitmen mereka untuk mendapatkan kembali karya-karya yang dicuri.

FBI sebut pelakunya sudah tewas dan bawa-bawa mafia

George Reissfelder dan Leonard DiMuzio memang telah diungkapkan sebagai tersangka utama oleh FBI, tetapi keterlibatan mereka dalam pencurian tersebut tetap menjadi misteri karena keduanya meninggal dalam waktu satu tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Meskipun FBI memberikan tingkat keyakinan yang tinggi terkait identifikasi mereka. Namun keterlibatan resmi mereka dalam perampokan tersebut mungkin tidak pernah terkonfirmasi secara tegas.

Teori-teori dan dugaan-dugaan seputar kasus pencurian seni di Museum Isabella Stewart Gardner memang menjadi bagian dari misteri yang belum terpecahkan ini. Melibatkan mafia dan berbagai tokoh kriminal, spekulasi ini menambah kompleksitas kasus ini. Meskipun telah ada beberapa nama tersangka yang diungkap oleh FBI dan teori lainnya. Kelanjutan investigasi dan upaya untuk mengungkap keberadaan lukisan-lukisan yang dicuri masih belum menemui titik terang.

Robert Gentile, sebagai satu-satunya individu yang masih hidup dan memiliki pengetahuan langsung tentang perampokan, menjadi fokus perhatian. Namun, ia telah menegaskan ketidakbersalahannya dan tidak memberikan informasi yang membantu dalam memecahkan kasus ini.

Misteri pencurian seni di Museum Gardner tetap menjadi topik yang menarik dan membingungkan, dengan banyak pertanyaan yang belum terjawab dan harapan untuk mendapatkan jawaban di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *